Kamis, 20 November 2014
Permasalahan Rasionalitas dan Islam
Seorang mu’allaf yang dikenal sebagai orang yang religius, aktif dalam lembaga-lembaga dakwah secara terbuka tiba-tiba saja mengumumkan bahwa ia bukanlah lagi bagian dari Islam, Agnostik hanya karena persoalan sepele, pertanyaan standar.
Mengapa Al-Qur’an mengatakan ini?
Mengapa Al-Qur’an mengizinkan hal itu
Mengapa Rasulullah melakukan hal tersebut?
Dan semua pertanyaan-pertanyaan semacam ini berkaitan munculnya problematika dalam menanggapi Al-Qur’an dan Sunnah secara intelektual
Sebelum menulis lebih lanjut, saya akan memaparkan beberapa poin pendahuluan tentang bagaimana kita menanggapi fenomena ini.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan tiga macam kebutuhan yang mendasar
1. Kebutuhan Fisik
Pemaknaan kita terhadap kebutuhan fisik pada umumnya adalah seperti kebutuhan kita akan makanan,minuman dan bernafas. Apabila kita tidak memiliki hal ini maka kita akan mati.
2. Kebutuhan Intelektual
Kebutuhan akan kepuasan akal kita atau kebutuhan atas pemenuhan rasa keingintahuan manusia
3. Kebutuhan Spiritual
Kebutuhan spiritual adalah salah satu hal yang penting untuk dipenuhi. Lantas apa yang terjadi jika kebutuhan ini tidak terpenuhi?
Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka yang terjadi adalah, depresi, tidak berartinya hidup sebab tanpa pemenuhan spiritual manusia hanya sekadar menghidupi hidupnya; tidur, makan lalu kerja dan terus berulang-ulang. Manusia hanya akan merasakan kekosongan dalam hidup dan sama sekali tidak memiliki tujuan hidup yang bermartabat.
Sehingga, orang-orang yang tidak memenuhi kebutuhan spiritual ini hanya akan membuat tujuan hidup yang derajatnya rendah dan ia menjadikannya sebagai tujuan hidup yang tertinggi. Begitu pula hal ini mengakibatkan beberapa orang mendedikasikan sesuatu yang sama sekali tidak ada esensi dan substansi hakiki yang mampu diambil dari sesuatu tersebut. Contoh kasusnya adalah orang yang bekerja hanya untuk mendapatkan uang semata dan itulah yang menjadi tujuan utama hidupnya.
FAKTANYA, ISLAM MENGAJARKAN TENTANG KETIGA KEBUTUHAN INI
Islam memberitahukan anda untuk menghidupi hidup anda secara fisik
Islam memberitahukan anda untuk menghidupi hidup anda seacara spiritual
dan Agama yang mulia ini juga memberi anda jawaban penuh arti mengenai
mengapa anda berada didunia ini?
apa tujuan anda hidup?
dan apa yang harus anda lakukan?
YANG MENJADI MASALAH ADALAH KETIKA MANUSIA MENGGUNAKAN SALAH SATU KEBUTUHAN DIATAS UNTUK MENDOMINASI KEDUA KEBUTUHAN LAINNYA
Dan salah satu kasusnya adalah isu-isu mengenai rasionalitas.
Isu-isu tentang sesuatu yang harus di mengerti oleh akal. Apabila sesuatu tidak sesuati dengan akal maka ia menolaknya meskipun itu agama yang diyakininya.
Lantas apakah ada hal-hal tertentu dalam islam yang IRRASIONAL?
Tidak demikian, Ajaran Islam hadir dimuka bumi ini tidaklah dengan hal-hal yang irrasional
Akan tetapi Islam hadir di muka bumi ini dengan sesuatu yang SUPRA-RASIONAL
buktinya adalah rasionalitas tidak memiliki peran dalam menetapkan apakah sesuatu itu valid atau tidak valid. Terkadang, kita menetapkan suatu keputusan dan meyakini bahwa hal itulah yang benar berdasarkan intelektualitas kita, Namun, dalam beberapa hari kemudian kita menyatakan menyesal akan memilih keputusan tersebut.
Adapun, Tak ada satupun ajaran Islam yang kontradiktif dengan intelektual. Akan tetapi, ia datang dengan sesuatu yang kemungkinan akal tidak mampu mencapainya meskipun itu “dianggap tidak logis”
Sederhananya, ada beberapa hal yang tidak terungkap dibalik cakupan akal dan penalaran, dan islamlah yang akan memberitahukan anda tentang hal ini. Tentu saja, ada kemungkinan bahwa akal anda tidak mampu memahaminya secara sempurna. Lebih jelasnya, Islam tidak akan pernah memerintahkan dan melarang sesuatu apabila hal tersebut kontradiktif dengan intelektual yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Satu hal yang perlu kita ketahui adalah letika kita mempertanyakan atau meragukan sesuatu yang ada pada Sunnah dan Al-Qur’an maka penyebab hal tersebut adalah karena interaksi pemahaman kita dengan ajaran Al-Qur’an dipengaruhi oleh paradigma kebudayaan khususnya budaya ke-moderenan.
Buktinya adalah barulah pada generasi moderen, kaum muslimin mulai mempertanyakan Al-Qur’an dan Sunnah padahal generasi-generasi sebelumnya sama sekali tidak pernah mempertanyakan Al-Qur’an dan Sunnah. Mayoritas pertanyaan-pertanyaan mereka adalah mengenai keberadaan Tuhan, Orientasi Sexual, Peran Gender yang mana pertanyaan-pertanyaan ini dipengaruhi oleh paradigm kebudayaan moderen. Oleh karena itu, dari pada mempertanyakan sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh akal ambillah satu langkah kebelakang sebelum bertanya dan mulailah mempertanyakan mengapa kita mempertanyakan hal ini?
apa dasar kita meragukan hal tersebut?
Dari mana asalnya pertanyaan ini?
Selain itu, hal yang harus kita ketahui juga adalah pola pemikiran kita tentu sulit terhindar dari paradigma moderen sebab kita ini adalah produk dari suatu peradaban dimana kontekstualisasi pemahaman akan diterima apabila berdasarkan paradigm modern. Oleh karena itu, seiring perkembangan zaman, ada kemungkinan bahwa perubahan paradigm kebudayaan juga akan mempengaruhi dan mengubah model-model pertanyaan yang meragukan kebenaran islam.
KETAHUILAH, PERTANYAAN-PERTANYAAN TERSEBUT SUATU SAAT MUNGKIN BERUBAH, AKANTETAPI AL-QUR’AN TIDAK AKAN PERNAH MENGALAMI PERUBAHAN DAN KEOTENTIKANNYA TETAP TERJAGA SEPANJANG MASA.
Seorang Ulama, Ibnu Taimiah Rahimahullah pernah memaparkan tentang persoalan ini. Beliau Rahimahullah menjelaskan bahwa sesuatu yang rasional pada masa lalu, bisa saja pada masa yang akan datang menjadi irrasional.
Bahkan rasionalitas itu sendiri berubah-ubah berdasarkan masyarakat, tempat dan waktu.
Lantas apakah Al-Qur’an melarang melakukan penalaran dengan akal?
Tidak demikian, Allah berfirman di dalam Al-Qur’an dan memerintahkan kita untuk Tafakkur, Tadabbur dan Tazakkur terhadap tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apabila kita memperhatikan dengan saksama ayat-ayat Al-Qur’an, maka satu hal yang dapat disimpulkan adalah Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan kita untuk mempertanyakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Bahkan Al-Qur’an diorientasikan kepada Non-muslim agar mereka berpikir
apakah buku ini (Al-Qur’an) datangnya dari Tuhan?
apakah Islam mengajarkan kebenaran atau tidak?
apakah Rasulullah benar atau tidak?
Sekali anda menarik kesimpulan bahwa jawabannya adalah benar maka kita, manusia yang tidak tahu apa-apa tidak boleh lagi mempertanyakan atau meragukan tentang kebenaran Al-Qur’an.
Kita tidak akan pernah mengerti mengapa kita diperintahkan sholat 5 kali dalam sehari mengapa bukan 3 kali
Kita tidak akan pernah mengerti mengapa sholat maghrib hanya 3 raka’at mengapa bukan 5
Kita tidak akan pernah mengerti mengapa kita harus berwudhu dengan cara-cara tertentu mengapa bukan dengan cara-cara yang lain.
Penalaran dalam Islam hanya sebatas pada pembuktian dan pedoman kepada anda bahwa Al-Qur’an datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Islam mengajarkan kebenaran.
Sekali saja anda mengakui kebenarannya, maka anda harus mengakui kebenarannya secara menyeluruh.
Salah satu kasus yang paling banyak diragukan adalah tentang pernikahan Rasulullah S.A.W dengan Aisyah R.A dimana pada hadist Bukhari dikatakan pada masa itu Aisyah berumur 9 tahun.
Mereka yang mempertanyakan hal ini dan berkata
“bagaimana mungkin Rasulullah S.A.W melakukan hal ini? ini adalah sesuatu yang tidak etis. Saya tak percaya seorang Nabi akan melakukan hal ini”
Satu hal yang perlu kita analisa adalah sesuatu yang dilakukan Rasulullah S.A.W ini tentunya datang dari suatu kebudayaan tertentu, waktu tertentu dan tempat tertentu.
Faktanya, para ahli sejarawan dan budayawan telah sepakat bahwa 500 tahun yang lalu, tidak hanya di wilayah Arab, Akan tetapi seluruh wilayah di dunia ini, orang-orang memang menikah pada umur yang sangat muda sebab pada masa itu taraf hidup lebih rendah dan orang-orang yang masih muda menjadi lebih cepat dewasa. Seorang anak perempuan 9 tahun pada masa lalu bahkan sama seperti seorang dewasa secara mental dan fisik pada umur 17 atau 18 tahun sekarang.
Bahkan, saya sebagai Mahasiswa Sastra Inggris, dalam studi saya, saya pernah menganalisis novel tulisan dari William Shakespeare, Romeo dan Juliet dimana pada novel tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa Rome dan Juliet masih berumur 13 tahun dan hal itulah yang menjadi dasar pemilihan aktor teater pemeran rome dan Juliet berumur 13 tahun. Jika dibandingkan dengan masa sekarang ini, maka kisah asmara dalam tulisan tersebut tentu akan dicap sebagai tindak pidana pelecehan seksual dibawah umur. Tentu saja, William Shakespeare pada masa itu tidak berpikir dan beranggapan bahwa Romeo dan Juliet berumur 13 tahun versi sekarang, akan tetapi 13 tahun versi 500 tahun yang lalu dimana seorang 13 tahun versi 500 tahun yang lalu sama dengan seseorang yang dewasa pada umur 17 atau 18 tahun versi sekarang.
Oleh karena itu, ketika kita berkata “bagaimana mungkin Rasulullah melakukan hal ini dan itu”
maka yang manakah harus kita salahkan terlebih dahulu
Akal kita
atau
Shiroh Rasulullah?
Sebelum menanyakan ayat Al-Qur'an ada baiknya jika kita mengambil selangkah kebelakang dan mempertanyakan pertanyaan kita terhadap Al-Qur'an
Mengapa saya menanyakan hal ini?
Dari mana asal pertanyaan semacam ini?
Jangan sampai, kita ini seolah-olah lebih cerdas dibandingkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Sungguh celakalah orang-orang yang mendahulukan Akalnya daripada mendahulukan Kebenaran Al-Qur'an
Lebih jauh lagi, Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan yang meragukan ini tidak perlu di pertanyakan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan memberinya sesuatu yang lebih berharga yang dikenal dengan Fitrah
Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah S.A.W
Setiap bayi yang lahir memiliki fitrahnya masing-masing
Lantas apakah yang dimaksud dengan fitrah ini?
Fitrah adalah sumber pengetahuan intuitif, pengetahuan yang tidak diperoleh melalui proses belajar, pengetahuan yang tidak diperoleh dari proses interaksi sosial. Tapi Fitrah adalah pengetahuan yang dimana semua orang memilikinya sejak ia lahir.
ANDA INI HIDUP PADA DASARNYA TELAH MENGETAHUI BEBERAPA FAKTA TERTENTU
Contohnya perbedaan antara sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang bermoral dan tidak bermoral. Semua orang tahu bahwa kebaikan itu baik dan semua orang tahu bahwa keburukan itu buruk. Ketika anda berbohong dan berlaku curang, maka Fitrah anda memberitahukan anda bahwa itu adalah hal yang buruk. Ketika anda memberi makan orang-orang yang tidak mampu, maka Fitrah anda akan memberitahukan anda bahwa itulah hal yang benar.
DAN ISLAM DATANG DI MUKA BUMI INI MEMBAWA FITRAH DAN IA MEMBERITAHU ANDA BAHWA TUHAN ITU ADA, DAN TUHAN ITU LAYAK UNTUK DISEMBAH
Jadi, seorang muslim tidak perlu cerdas secara intelektual untuk meyakini setiap ayat yang ada pada Al-Qur’an dan Sunnah sebab sesungguhnya Fitrahnya mengatakan bahwa Al-Qur;an dan Sunnah itu adalah kebenaran. Kalaupun ia adalah seseorang yang cerdas dari segi intelektualitas maka jadikanlah itu sebagai nilai tambah untuk meyakini bahwa Al-Qur'an dan Sunnah adalah kebenaran.
Sebagai penutup, jika anda pernah merasa ragu atas kebenaran Al-Qur’an atau bertemu dengan orang-orang seperti ini maka berdo’alah kepada Allah perbanyaklah istighfar.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Robb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
[HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792]
اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّين
“Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalannya) mereka yang
dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah:6-7)
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala Senantiasa Mencurahkan Hidayah-Nya kepada kita
Wallahu A’lam
Langganan:
Komentar (Atom)