ku memandang langit
sang langit murka padaku
ku bertanya kepada angin
sang angin tak peduli padaku
ku bercerita kepada awan
sang awan pun menangis
ya, menangis deras sekali
hingga tangisannya membuatku buta
dengan embun di hadapan jendela duniaku
tangisannya membuatku tersesat
di dalam kabut di depan mataku
Aku melihat bayangan hitam didalamnya
seolah-olah berbisik dan merintih memanggil namaku
kucoba terus melangkah dan telusuri kabut itu
hingga akhirnya aku menemukan seorang anak kecil
yang memegang selembar koran di tangan kanannya
dan memegang uang sebesar seribu rupiah di tangan kirinya
tampaknya ia menggigil kedinginan dan lapar
kuselimuti anak itu dengan jaket biruku
anak itu tersenyum meskipun air matanya membanjiri pipinya
kusodorkan selembar uang kertas...
ia menolak
kusodorkan sepotong roti cokelat...
dia memakannya dengan lahap
aku tak tahu menahu apa yang di inginkannya dariku
aku hanya bisa tersenyum karena melihat anak itu tersenyum
walaupun air mata menghujani pipinya di bawah hujan
aku berkata padanya
anak kecil sepertimu tak pantas menjadi penjual koran
anak kecil sepertimu seharusnya bersekolah
bocah itu hanya mengangguk ngangguk mendengar perkataanku
aku tak tahu apakah dia mengerti perkataanku apa tidak
yang jelas, dia berterus terang bercerita kepadaku
tentang perjuangannya berkelahi dengan waktu
saat itu, langit tiba-tiba memperlihatkan sinar bulannya padaku
bintang-bintang turut menyemarakkannya
dan awan pun berhenti menangis
ku langkahkan kakiku pulang
dengan langkah tak karuan
meratapi hidupku yang serba cukup ini
sang langit murka padaku
ku bertanya kepada angin
sang angin tak peduli padaku
ku bercerita kepada awan
sang awan pun menangis
ya, menangis deras sekali
hingga tangisannya membuatku buta
dengan embun di hadapan jendela duniaku
tangisannya membuatku tersesat
di dalam kabut di depan mataku
Aku melihat bayangan hitam didalamnya
seolah-olah berbisik dan merintih memanggil namaku
kucoba terus melangkah dan telusuri kabut itu
hingga akhirnya aku menemukan seorang anak kecil
yang memegang selembar koran di tangan kanannya
dan memegang uang sebesar seribu rupiah di tangan kirinya
tampaknya ia menggigil kedinginan dan lapar
kuselimuti anak itu dengan jaket biruku
anak itu tersenyum meskipun air matanya membanjiri pipinya
kusodorkan selembar uang kertas...
ia menolak
kusodorkan sepotong roti cokelat...
dia memakannya dengan lahap
aku tak tahu menahu apa yang di inginkannya dariku
aku hanya bisa tersenyum karena melihat anak itu tersenyum
walaupun air mata menghujani pipinya di bawah hujan
aku berkata padanya
anak kecil sepertimu tak pantas menjadi penjual koran
anak kecil sepertimu seharusnya bersekolah
bocah itu hanya mengangguk ngangguk mendengar perkataanku
aku tak tahu apakah dia mengerti perkataanku apa tidak
yang jelas, dia berterus terang bercerita kepadaku
tentang perjuangannya berkelahi dengan waktu
saat itu, langit tiba-tiba memperlihatkan sinar bulannya padaku
bintang-bintang turut menyemarakkannya
dan awan pun berhenti menangis
ku langkahkan kakiku pulang
dengan langkah tak karuan
meratapi hidupku yang serba cukup ini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar